Di Instagram sedang trend #2016 atau #throwback2016, kemudian aku berpikir dan mengingat-ingat. Seperti apa diriku di tahun 2016?
Keluar dari Zona
Di tahun 2016, adalah tahun dimana aku mulai keluar dari zona nyaman. Ya, aku mencoba belajar melakukan sesuatu di luar kebiasaan. Biasanya jika bepergian aku selalu didampingi Ibu. Namun di tahun 2016, aku mulai belajar untuk bepergian dengan didampingi orang lain untuk hadir di sebuah acara.
Sebagai difabel pengguna kursi roda karena kelainan langka Friedreich's Ataxia. Memang lebih aman dan nyaman jika pergi didampingi oleh keluarga, teman ataupun orang yang kita kenal. Namun adakalanya, mereka tidak bisa mendampingi karena sudah memiliki agenda lain. Pilihannya hanya dua, tidak pergi atau pergi didampingi orang lain.
Di tahun 2016, Ibu Noviana Dibyantari, founder Komunitas Sahabat Difabel, mengundangku untuk datang di acara Makan Bareng 1000 Difabel di UTC Semarang. Aku senang menerima undangan itu dan segera kusampaikan ke Ibu. Namun sayang, Ibu tidak bisa mendampingi karena ada kegiatan lain yang tidak bisa dibatalkan. Sedih? Tentu saja. Padahal di acara itu aku sudah membayangkan bisa bertemu dengan Mbak Susiyana, teman difabel yang aku kenal melalui facebook.
Karena Ibu tidak bisa mendampingi, aku menyampaikan ketidakhadiranku pada Bu Noviana.
"Duh, sayang sekali ya Yeni. Coba saya cari solusinya. Nanti saya kabari."
Beberapa hari kemudian Bu Noviana mengabari jika aku bisa berangkat ke acara tersebut karena ada relawan yang akan menjemput yaitu Mas Adit, putra sulung bu Noviana. Aku senang karena bisa pergi ke acara tersebut. Namun di sisi lain aku juga bingung. Bagaimana caranya aku meminta izin pada Ibu untuk memperbolehkan aku pergi? Aku sendiri juga ragu. Apakah aku bisa pergi tanpa didampingi Ibu? Sementara dengan Mas Adit, aku belum kenal dan belum pernah bertemu sama sekali. Keraguanku pun sirna, setelah tahu jika Mbak Yanti juga akan ikut mendampingi. Mbak Yanti adalah relawan di Komunitas Sahabat Difabel dan kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Lega rasanya.
Setelah mengumpulkan keberanian. Aku segera meminta izin sama Ibu.
"Pergi tanpa ibu apa kamu bisa?" Reaksi Ibu ketika aku meminta izin.
"Insya Allah bisa Bu. Mungkin ini saatnya aku belajar mandiri. Kan aku perginya juga sama Mbak Yanti," bujukkku.
Akhirnya, Ibu memberiku izin. Momen tersebut adalah pertama kalinya aku pergi berkegiatan didampingi orang lain.
Bertemu Dengan Teman Difabel
Hari yang ditunggu tiba. Sesuai janji Mbak Yanti dan Mas Adit menjemputku di rumah. Jantungku berdegub kencang. Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan teman-teman difabel yang selama ini hanya bisa aku temui secara online.
Saat tiba di UTC Semarang, sudah ada beberapa teman difabel yang datang. Inilah pertama kalinya aku berinteraksi dengan teman-teman difabel secara langsung. Tak hanya menambah teman dan pengalaman. Aku juga mendapat ilmu baru tentang dunia difabel. Ya, dunia difabel adalah dunia baru bagiku.
Sejak hadir di kegiatan Makan Bareng 1000 Difabel, aku mulai sering mengikuti acara-acara difabel lainnya. Aku juga sudah tidak bergantung pada Ibu. Aku sudah mulai terbiasa berkegiatan didampingi oleh relawan.
![]() |
| Pertama kali bertemu dengan Mbak Susiyana di Acara Makan Bareng 1000 Difabel di UTC Semarang (Foto : Dok. Pribadi) |
Menulis di Blog
Aku menyukai menulis sejak duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Aku masih ingat betul, bagaimana antusiasnya aku ketika pelajaran bahasa Indonesia dan ketika bu guru meminta murid-muridnya untuk menuliskan pengalaman berkesan setelah liburan. Aku menjadi murid yang paling cepat untuk menuliskannya. Namun sayangnya, hobiku menulis dianggap oleh sebagian orang sebagai suatu kegiatan yang sia-sia. Tidak bermanfaat karena menguras waktu dan pikiran.
"Buat apa sih Yen kamu nulis? Kayak nggak ada kegiatan lain yang lebih bermanfaat?"
"Apa sih yang kamu dapat dari menulis?"
Aku hanya menjawab, "Aku menulis untuk mencurahkan apa yang ada di pikiran, apa yang aku lihat, dengar dan rasakan." Memang terdengar klise, tapi memang itulah alasanku menulis. Menulis juga sebagai healing therapy.
Jika selama ini aku hanya menulis di diary dan kubaca sendiri. Kemudian aku berpikir, jika menulis di blog, mungkin tulisanku bisa dibaca banyak orang. Mungkin saja tulisanku bisa menginspirasi orang lain. Itulah titik awal perjalanan saya menulis di blog.
Aku belajar membuat blog secara otodidak dari YouTube. Masih teringat jelas dalam ingatan, hari pertama membuat blog dan memilih nama yang cukup sederhana, tapi menurutku sangat menggambarkan diriku yaitu "Story of My Life". Blog yang berisi tentang pengalaman hidup sebagai difabel karena kelainan langka Friedreich's Ataxia. Menceritakan bagaimana seorang perempuan difabel pengguna kursi roda menjalani kehidupan sehari-hari di tengah keterbatasan yang dimiliki. Menghadapi stigma negatif yang masih melekat pada difabel. Perlakuan diskriminasi hingga tidak aksesnya sarana publik di Indonesia. Blog juga aku jadikan media untuk berbagi tips seputar dunia literasi, portofolio karya-karya yang dimuat di media cetak ataupun ketika menjadi pemenang sebuah perlombaan.
Bergabung di Komunitas Gandjel Rel
Untuk menulis di blog bisa dilakukan seorang diri, tapi untuk menjadi blogger harus bergabung dengan komunitas blogger. Karena baru terjun di dunia blogger, pengetahuan yang kumiliki hanya dari internet dan YouTube. Saat itu, aku belum punya teman blogger. Karena alasan itulah aku mencari info seputar komunitas blogger di Facebook. Pokoknya setiap ada grup blogger di Facebook, aku mengirim permintaan untuk bergabung.
Setelah bergabung dengan komunitas blogger, wawasanku jadi bertambah. Ternyata untuk ngeblog itu butuh guru atau tutor, karena ngeblog bukan cuma sekadar menulis. Blog itu memiliki banyak fitur di dalamnya. Dari aspek SEO, riset keyword, membuat infografis pendukung, dan fitur-fitur lainnya.
Salah satu komunitas blog tempat saya bergabung adalah Komunitas Gandjel Rel yaitu sebuah komunitas blogger Semarang yang didirikan pada tanggal 22 Februari 2015 oleh Mbak Dewi Rieka, Mbak Uniek Kaswarganti, Mbak Wuri Nugraeni, Mbak Rahmi Aziza dan Mbak Lestari.
Gandjel Rel mengusung tagline "Ngeblog ben rak ngganjel", yang artinya tujuan ngeblog agar tidak ada yang mengganjal di pikiran dan dapat mengutarakan isi hati. Wah, tentu tagline ini sesuai dengan tujuan awal saya menulis blog yaitu mencurahkan apa yang ada di pikiran.
Meski sudah bergabung selama tiga tahun di Gandjel Rel pada bulan Februari 2023. Namun sayang sekali aku belum mempunyai kesempatan untuk bertemu secara langsung. Ingin sekali bertemu dan berkumpul dengan teman-teman Gandjel Rel. Saling kenal satu sama lain. Saat ingin hadir, ada saja halangannya. Misalnya tidak ada teman atau anggota keluarga yang bisa mendampingi. Selain itu aku harus memikirkan aksesibilitas tempat kegiatan. Apakah tempat tersebut akses untuk pengguna kursi roda? Meski begitu aku ikut senang melihat kebersamaan antar anggota Gandjel Rel melalui foto-foto juga video yang dibagikan di grup WhatsApp.
Jika menarik kembali ingatan ke tahun 2016, aku berterima kasih kepada diriku karena sudah berani untuk keluar dari zona nyaman dan menjadi diriku yang sekarang. Bisa pergi ke berbagai tempat meski memiliki keterbatasan fisik. Bertemu dengan orang-orang baru. Dari merekalah aku mendapat pengalaman dan ilmu. Aku juga bersyukur karena diberi Allah kemampuan untuk menulis yang bisa dibaca banyak orang.










%20ke%20koran%20lingkar.png)
