PEREMPUAN BICARA RASA, MELEPASKAN KETIDAKPERCAYAAN DIRI DARI SEPASANG RODA BESI
July 13, 2026Tidak dapat dipungkiri manusia menilai manusia lain dari tampilan fisik atau luarnya saja. Terlebih bagi perempuan. Perempuan pertama kali dinilai dari kecantikannya, cara berpakaiannya dan bagaimana ia berjalan.
Namun, apa yang terjadi? Dan bagaimana penilaian orang lain ketika ada seorang perempuan yang geraknya dibatasi oleh sepasang roda besi. Sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri hingga membandingkan diri dengan orang lain karena keterbatasan fisik yang dimiliki.
Menjadi perempuan difabel pengguna kursi roda bukan sekadar tentang perjuangan melawan gejolak batin yang melelahkan. Namun juga perjuangan fisik untuk mengatasi gerak batas dalam mengakses sarana dan prasarana di ruang publik.
Sejak menjadi difabel karena kelainan langka Friedreich's Ataxia dan harus menggunakan kursi roda sebagai alat bantu mobilitas sehari-hari. Rasa percaya diri saya perlahan-lahan mulai terkikis. Hal ini diawali dengan membatasi diri untuk berinteraksi dengan orang maupun dunia luar.
Saya menjadi difabel ketika usia 19 tahun. Masa dimana transisi menuju kedewasaan awal. Masa dimana ketika perempuan lain sebaya saya mulai mengeksplorasi dunia dengan langkah kaki mereka yang bebas. Sementara saya hanya bisa terkekang. Duduk di atas kursi roda dan bergantung pada orang lain.
Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran saya.
"Ya Allah, kenapa semua ini terjadi pada saya? Bukan orang lain?"
"Apakah saya bisa seperti mereka. Mengejar mimpi dan cita-cita meski berada di atas kursi roda?"
"Apakah saya bisa disebut sebagai perempuan seutuhnya jika fisik saya seperti ini?"
Proses Penerimaan Diri
Tiada hari yang saya lalui tanpa menangis. Hingga suatu hari Allah menyadarkan saya, bahwa percuma saja menangis. Toh tidak akan membuat saya bisa berjalan kembali ataupun berlari. Bukan hanya saya saja yang berduka karena harus menggunakan kursi roda, tetapi juga keluarga. Terutama Ibu. Namun beliau begitu tegar dan terus memberi saya semangat untuk menjalani hidup dengan optimis.
Perlahan, saya mulai bangkit dari keterpurukan. Kembali menata hidup. Ikhlas dengan takdir Sang Maha Kuasa. Berdamai dengan diri sendiri. Juga menerima diri sebagai seorang difabel pengguna kursi roda. Penerimaan diri yang saya alami, bukanlah proses yang terjadi dalam semalam. Hal tersebut merupakan perjalanan spiritual dan emosional yang berliku.
Saya mulai belajar untuk melihat kursi roda bukan sebagai "penjara" yang mengurung saya. Melainkan sebagai "sayap" yang Allah ciptakan untuk saya. Dengan sayap ciptaan-Nya bisa membuat saya tetap terbang tinggi. Ya, fisik saya memang terbatas, tetapi pikiran, ide, dan kreativitas yang saya miliki tidak terbatas.
Saya perempuan difabel pengguna kursi roda. Namun kedifabelan atau kedisabilitas saya adalah bagian dari identitas fisik saya. Namun hal tersebut tidak menentukan kapasitas hati dan pikiran saya untuk berkarya, berprestasi dan bermanfaat bagi sesama.
Menciptakan Ruang Perempuan Bicara Rasa
Ketika memulai fase penerimaan diri, supaya tidak terlalu memikirkan kondisi saya dan agar mempunyai kegiatan. Saya memilih memulai menulis lagi.
Melalui blog ini saya jadikan ruang Perempuan Bicara Rasa. Sebagai perempuan difabel, saya berbicara rasa apa yang saya alami melalui tulisan. Berbicara melalui tulisan, bagaimana menjalani hidup sebagai odalangka (orang dengan kelainan langka), apa itu Friedreich's Ataxia. Saya juga membagikan sedikit ilmu yang saya miliki tentang dunia difabel dan dunia literasi.
Saya tidak menyangka postingan saya di blog mendapat respon positif dari para pembaca. Seringkali saya menerima pesan, baik melalui E-mail, Facebook maupun Instagram dari para pembaca. Mayoritas dari mereka mengucapkan terima kasih dan merasa terbantu dengan postingan saya di blog. Bahkan ada juga yang merasa mendapat inspirasi dan motivasi.
Saya bersyukur karena mempunyai hobi menulis dan bisa mencurahkan apa yang ada di pikiran melalui blog. Di era digital yang berkembang pesat seperti saat ini. Memiliki blog pribadi bagi perempuan adalah sebuah berita baik.
Melalui tulisan, saya ingin menyampaikan kepada kepada seluruh perempuan di luar sana. Baik yang bergerak menggunakan besi beroda atau melangkah dengan kedua kakinya. Bahwa saya ada dan keterbatasan fisik tidak menghalangi saya untuk berkarya dan meraih prestasi.
Bangga Jadi Diri Sendiri
Rasa tidak percaya diri itu manusiawi, tetapi jangan biarkan ia terlalu lama menetap dalam diri. Seperti yang saya lakukan, merenung dan bertanya pada diri sendiri untuk melepaskan rasa ketidakpercayaan diri karena menjadi seorang difabel.
"Apa yang bisa saya lakukan dengan apa yang saya miliki saat ini?"
Kemudian saya berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Setiap orang memiliki garis start yang berbeda. Setiap perempuan memiliki medan perangnya masing-masing. Kursi roda saya adalah medan tempur sekaligus pembuktian pada diri sendiri jika saya mampu.
Selama menjadi difabel saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah jangan takut untuk memulai. Baik itu hal baru atau hal lama yang pernah terlupakan. Berhasil atau gagal, dipikirkan nanti. Jika berhasil berarti kita mampu melewati dan akan melangkah ke anak tangga selanjutnya. Namun jika gagal adalah bagian dari proses.
Jika dulu saya tidak mencoba memulai bangkit. Sekarang, saya tidak akan ada di titik ini. Saya sadar, tatapan aneh dari orang lain ketika melihat saya menggunakan kursi roda akan selalu ada. Bukankah kita tidak bisa mengatur orang lain? Yang bisa saya lakukan adalah mengendalikan pikiran saya. Fokus menjalani hidup bersama orang-orang yang mencintai dan mendukung saya. Saya tidak lagi hidup untuk memenuhi ekspektasi atau penilaian orang lain.
Kini, setiap kali saya menatap diri sendiri di cermin bersama kursi roda ini, saya tidak lagi melihat keterbatasan. Saya melihat seorang pejuang. Pejuang perempuan difabel agar bisa setara di masyarakat. Dan yang terpenting adalah berjuang agar memiliki suara agar bisa didengar.
Sebagai perempuan, mari kita bergandengan tangan, saling menguatkan, dan meruntuhkan tembok-tembok ketakutan yang kita bangun sendiri. Karena sejatinya perempuan memiliki kekuatan yang luar bisa.
Saya adalah seorang perempuan difabel. Saya bangga dengan semua hal yang ada pada diri saya, apa yang telah saya lakukan dan apa yang telah saya capai. Dengan kursi roda ini, saya akan terbang tinggi. Dengan hati yang menginjak bumi.


0 komentar