MEWUJUDKAN MASYARAKAT SEHAT INDONESIA KUAT MELALUI CEK KESEHATAN GRATIS INKLUSIF DAN AKSESIBEL BAGI DISABILITAS
August 16, 2026Sehat itu mahal. Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Pepatah itu benar adanya, karena biaya yang dikeluarkan untuk sembuh jauh lebih besar daripada biaya yang digunakan untuk menjaga kesehatan agar tidak sakit. Dulu pepatah ini susah dipraktekkan karena cek laboratorium biayanya mahal dan lokasinya jauh.
Kini rakyat Indonesia tidak perlu khawatir. Sejak 10 Februari 2025, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai hadiah ulang tahun negara untuk seluruh rakyat Indonesia. Tujuannya adalah mendeteksi dini risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung sebelum gejala muncul dan terlambat ditangani.
Awalnya program CKG diberikan gratis minimal 1 kali setahun seumur hidup. Namun sejak Maret 2025, CKG bisa dilakukan kapan saja sepanjang tahun. Jadi tidak perlu menunggu hari ulang tahun. Kemenkes membuka fleksibilitas ini agar lebih banyak warga terjangkau.
CKG diberikan kepada bayi baru lahir, balita, anak sekolah, remaja, dewasa, hingga lansia. Setiap kelompok usia mendapat paket pemeriksaan yang disesuaikan. Jika saat pemeriksaan terdeteksi masalah kesehatan, pemerintah menjamin pengobatan gratis 15 hari pertama. Selanjutnya, penanganan dilanjutkan melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau layanan kesehatan yang tersedia.
Cara Daftar CKG
Ada 3 cara yang bisa digunakan untuk mengakses CKG. Mudah, Gratis dan Tanpa biaya.
1. Aplikasi SATU SEHAT
- Download aplikasi SATUSEHAT Mobile di App Store atau Play Store
- Login dengan E-mail, nomor HP, PIN, atau biometrik
- Masuk menu Cek Kesehatan Gratis lalu Tiket Pemeriksaan
- Tekan Buat Tiket Baru, isi data diri
- Pilih jadwal dan lokasi Puskesmas terdekat
- Tunjukkan nomor tiket ke petugas saat datang
2. WhatsApp Chatbot Kemenkes
- Hubungi WhatsApp 081110500567 lalu ketik "Halo" atau "Hi"
- Pilih tombol Cek Kesehatan Gratis pada balasan otomatis
- Ikuti arahan chatbot, klik link yang diberikan
- Isi formulir lengkap dan tunggu notifikasi jadwal
3. Langsung ke Puskesmas
- Datang ke Puskesmas terdekat pada jam kerja
- Bawa identitas diri berupa KTP/KK/KIA/BPJS
- Pindai QR Code Daftar CKG yang tersedia di Puskesmas
- Isi formulir pendaftaran dengan lengkap
- Pindai QR Code Skrining Mandiri dan isi skrining kesehatan
- Tunggu antrean dan jalani pemeriksaan bersama petugas
![]() |
| CKG yang pernah saya lakukan melalui WhatsApp Chatbot Kemenkes (Foto : Dok. Pribadi) |
CKG Inklusif dan Aksesibel Bagi Disabilitas
Setiap Warga Negara Negara Indonesia memiliki hak yang sama di bidang kesehatan tanpa terkecuali termasuk penyandang disabilitas. Sesuai UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Dalam pasal 12 menyebutkan hak penyandang disabilitas di bidang kesehatan meliputi
- Memperoleh informasi dan komunikasi yang mudah diakses dalam pelayanan kesehatan
- Memperoleh kesamaan dan kesempatan akses atas sumber daya di bidang kesehatan
- Memperoleh kesamaan dan kesempatan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau
- Memperoleh kesamaan dan kesempatan secara mandiri dan bertanggung jawab menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan bagi dirinya
- Memperoleh Alat Bantu Kesehatan berdasarkan kebutuhannya
- Memperoleh obat yang bermutu dengan efek samping yang rendah
- Memperoleh Pelindungan dari upaya percobaan medis dan
- Memperoleh Pelindungan dalam penelitian dan pengembangan kesehatan yang mengikutsertakan manusia sebagai subjek.
Meskipun pemeriksaan kesehatannya berlabel "Gratis", proses untuk menuju ke lokasi pemeriksaan sering kali membutuhkan biaya dan usaha yang tidak sedikit. Warga dengan disabilitas berat (severe disability) membutuhkan pendamping untuk membantu mereka berpindah. Jika pendamping tersebut harus mengorbankan jam kerjanya, misalnya bekerja sebagai buruh harian, maka secara ekonomi keluarga tersebut kehilangan pendapatan. Selain itu pelayanan kesehatan di Indonesia masih memiliki kelemahan yaitu asumsi bahwa semua orang memiliki mobilisasi yang setara. Kenyataannya, kelompok penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil ataupun warga dengan kondisi medis degeneratif parah, sering terisolasi dari akses pelayanan kesehatan akibat hambatan fisik dan infrastruktur.
Agar tidak ada satu kelompok yang tertinggal dan bisa memperoleh CKG ramah, aksesibel dan inklusif. Maka diperlukan peran seluruh Warga Negara dari lingkup terkecil seperti RT maupun RW. Banyak RT/RW di Indonesia, termasuk di lingkungan tempat tinggal saya menginisiasi CKG. Kegiatan CKG yang dilakukan oleh Posyandu ILP Tunas Kasih RW 13 Kelurahan Srondol Wetan Semarang ini diadakan sebulan sekali di minggu keempat di balai RW. Flyer akan dibagikan di grup WhatsApp masing-masing RT tiga hari sebelum kegiatan. Dan akan diingatkan kembali saat kegiatan agar para warga datang ke balai RW untuk cek kesehatan.
CKG Posyandu ILP Tunas Kasih RW 13 Kelurahan Srondol mengusung konsep gotong royong. Puskesmas mengirim 2 orang nakes sedangkan kader posyandu dan PKK menjadi panitia. Warga akan mendapat pemeriksaan berupa cek tekanan darah, cek gula darah, cek kolesterol, penimbangan berat badan, ukur lingkar perut, lengan dan tinggi badan. Kemudian akan mendapat hasil pemeriksaan, konsultasi dan PMT (Pemberian Makanan Tambahan) Bergizi.
Bagi warga, kehadiran CKG di RW sebulan sekali ini sangat membantu karena dapat memangkas biaya transportasi dan waktu antre di Puskesmas. Lalu, bagaimana dengan mereka yang tubuhnya tidak memungkinkan untuk sekadar berjalan sejauh 50 meter ke balai RW? Bagaimana dengan lansia yang sudah lumpuh? Bagaimana dengan saya, disabilitas daksa, disabilitas netra, Tuli dan disabilitas lainnya?
Saya adalah seorang disabilitas pengguna kursi roda karena kelainan langka Friedreich's Ataxia. Tidak aksesnya Balai RW membuat saya tidak bisa melakukan pemeriksaan kesehatan secara langsung. Maka, petugas melakukan sistem jemput bola. Setelah pelayanan kesehatan selesai, petugas mendatangi rumah saya dengan membawa peralatan seperti alat tensi, GDS (tes mengukur kadar glukosa) dan kolesterol.
Ketika nakes datang ke rumah, memeriksa lalu mengobrol di ruang tamu, suasananya menjadi berbeda. Lebih kekeluargaan.
"Mbak Yeni suka makanan dan minuman yang manis ya? Dikurangi ya mbak. Biar kadar gulanya nggak tinggi."
"Apa ada yang dipikirkan Mbak atau kurang tidur? Tensinya naik."
Adanya sistem jemput bola membuat saya merasa diperhatikan. Tentu ini sesuai prinsip "No One Left Behind". Tanpa jemput bola, CKG berisiko cuma dinikmati yang 'mampu datang'. Dengan jemput bola, saya tidak hanya merasa sehat secara fisik, tetapi jiwa saya ikut terobati. Saya merasa dilihat. Saya merasa diakui keberadaannya sebagai warga negara yang berhak mendapatkan fasilitas kesehatan dari negara.
Bagi saya, aksesibilitas bukan sekadar tentang membangun ramp atau lift. Aksesibilitas adalah tentang mindset (pola pikir) dan empati. Sistem jemput bola ini memecah tembok tebal diskriminasi yang selama ini menghalangi kelompok rentan dari hak dasar mereka atas kesehatan.
![]() |
| Flyer yang dibagikan di WhatsApp Grup RT (Foto : WA Grup RT 03) |
![]() |
| Warga RW 13 melakukan CKG sebulan sekali (Foto : Dok. Posyandu ILP Tunas Kasih RW 13) |
![]() |
| Petugas mendatangi rumah saya dan melakukan pemeriksaan di ruang tamu (Foto : Dok. Pribadi) |
Pentingnya Sistem Jemput Bola Bagi Disabilitas
![]() |
| Disabilitas pengguna kursi roda melakukan CKG (Foto: Dok. Pribadi) |
Mewujudkan Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat memerlukan dukungan banyak pihak. Kekuatan sebuah negara tidak hanya diukur dari alutsista militernya atau gedung-gedung pencakar langitnya, melainkan dari seberapa tangguh kualitas fisik dan mental warga negaranya. Ketangguhan itu dimulai dari hal yang sangat kecil yaitu seberapa peduli kita pada kesehatan orang-orang di sekitar kita. Terutama pada kelompok rentan.
Masyarakat yang sehat tidak boleh meninggalkan siapa pun di belakang (no one left behind). Entah dia berjalan dengan dua kaki, menggunakan tongkat, atau memakai kursi roda. Kesehatan setiap warga negara adalah aset berharga bagi bangsa.
Program CKG dengan sistem jemput bola harus terus didukung, dievaluasi, dan direplikasi di seluruh daerah. Pemerintah daerah yang belum menerapkan sistem jemput bola harus segera belajar dari RT/RW yang telah berhasil melaksanakannya.
Saya berharap program CKG dengan sistem jemput bola bisa menjangkau seluruh disabilitas hingga pelosok daerah di Indonesia. Untuk teman-teman disabilitas, jangan ragu untuk memeriksakan diri. Jangan takut untuk mengetahui kondisi kesehatan kita. Sambutlah para kader kesehatan yang mengetuk pintu rumah dengan senyuman.
Mari rutin melakukan cek kesehatan. Meski berada di atas kursi roda, tidak membatasi saya untuk menjadi manusia yang sehat dan produktif. Selama saya berada di tengah masyarakat yang peduli, hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil. Di dalam sebuah negara yang kuat, ada masyarakat yang sehat.
Arti kemerdekaan sesungguhnya bagi saya adalah ketika saya memiliki akses untuk tetap sehat dan berdaya, tanpa terhalang oleh keterbatasan fisik.
Referensi
UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026
#HUT81RI







0 komentar